Kamis, 31 Mei 2012

TUGAS MINI PROYEK 2011/2012



Topik
Ruang lingkup Pendidikan Usia Pra-Sekolah

Judul
Dinamika dan Minat Belajar Anak Pra-Sekolah di Sakai Morrisons

Pendahuluan
            Anak pada usia dini (0-8 tahun) memiliki kemampuan belajar yang luar biasa. Khususnya pada masa kanak-kanak awal. Keinginan anak untuk belajar menjadikan ia aktif dan eksploratif. Anak belajar dengan seluruh panca inderanya untuk dapat memahami sesuatu, dan dalam waktu singkat ia akan beralih ke hal lain untuk dipelajari. Lingkunganlah yang kadang menjadikan anak terhambat dalam mengembangkan kemampuan belajarnya. Bahkan seringkali lingkungan mematikan keinginannya untuk bereksplorasi. Didalam ruang lingkup usia dini, terdapat tahap anak prasekolah.
            Pendidikan prasekolah merupakan pemberian pembelajaran kepada anak berusia 3-6 tahun dengan cara mendidik anak menggunakan metode  belajar sambil bermain mengenai berbagai hal sesuai dengan usia dan kemampuan perkembangan otaknya. Anak juga dilatih untuk mempersiapkan diri memasuki jenjang pendidikan dasar. Selain itu, di masa kini semakin banyak sekolah dasar yang menuntut calon muridnya sudah harus mampu membaca dan menulis. Maka dari itu, dalam jenjang pendidikan prasekolah, anak diajarkan untuk membaca dan menulis sehingga anak yang mendapatkan pendidikan prasekolah lebih siap melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dengan adanya situasi yang seperti dijelaskan diatas, kami ingin mengamati bagaimana respon dan minat yang ditunjukkan anak dengan mata pelajaran yang didapat disekolah.

Landasan Teori
            Friedrich Wilhelm Froebel (1782-1852) mendirikan kindergarten pertama pada tahun 1837, dengan rancangan kurikulum yang telah terstruktur untuk anak dalam mencapai pemahaman tentang lingkungan sekitarnya. Kurikulum yang dirancang Froebel meliputi pekerjaan atau kegiatan seni, keahlian dan pembangunan. Semua kegiatan yang dirancang dilakukan dalam bermain seperti bermain lilin, meronce, menggunting dan melipat kertas, bernyanyi, permainan, bahasa dan aritmetika. Pendidikan taman kanak-kanak perlu mengikuti sifat anak serta bermain merupakan suatu metode dari pendidikan dan cara dari anak untuk meniru kehidupan orang dewasa dengan wajar.
            Froebel mengatakan bahwa tahap ini merupakan masa permulaan pendidikan karena pada tahap ini anak sudah mulai bisa mengucapkan kata benda. Namun demikian, kata pertama yang diucapkan anak tersebut biasanya sedikit salah dan merupakan kewajiban orang tua atau pendampingnya untuk memperbaiki perkataan tersebut dengan mengucapkan kata yang disebutkan anak tersebut dengan benar. Selain pengucapan, Froebel juga menekankan mengenai bermain dan menarik hubungan antara bermain dengan pengalaman pendidikan. Menurut Froebel, bermain merupakan proses dimana perkembangan kepribadian sedang terjadi. Oleh karena itu, ruang gerak anak tidak boleh dibatasi karena apabila kegiatan seorang anak dibatasi maka itu sama dengan mengikat nalar anaknya karena ia tidak bebas untuk menjelajahi lingkungannya. Masa kanak-kanak ini berakhir apabila seorang anak sudah mempunyai pengalaman lahiriah dan menjadikannya sebagai pengalaman batiniah.
            Selain itu, John Dewey juga meyakini bahwa anak harus diberikan kegiatan yang bermanfaat sesuai tahap perkembangannya. Teori Dewey mengenai sekolah disebut sebagai “progressivism” yang lebih menekankan pada anak didik dan minat anak daripada mata pelajaran itu sendiri. Sehingga muncullah istilah “child-centered curriculum” dan “child-centered schools”.
            Menurut John Dewey, sekolah adalah lembaga penyelenggara pendidikan yang mempunyai maksud dan tujuan untuk membangkitkan sikap hidup demokratis dan untuk dikembangkan. Hal ini harus dilakukan dengan berpangkal pada pengalaman –pengalaman anak. Harus diakui bahwa tidak semua pengalaman bermanfaat, oleh karena itu sekolah harus memberikan “bahan pelajaran” sebagai pengalaman-pengalaman yang bermanfaat bagi masa depan anak sekaligus juga anak dapat mengalaminya sendiri. Sehingga anak didik dapat menyelidiki, menyaring dan sebagai pengatur pengalaman tadi.
            Progresivisme mengenai konsep belajar bertumpu pada anak didik. Disini anak didik dipandang sebagai makhluk yang mempunyai kelebihan, dibandingkan makhluk lain, yaitu akal dan kecerdasan. Dan dalam proses pendidikanlah peserta didik dibina untuk meningkatkan keduanya.
            Menurut progresivisme, proses pendidikan mempunyai dua segi, yaitu psikologis dan sosiologis. Dari segi sosiologis, pendidik harus dapat mengetahui tenaga-tenaga atau daya-daya yang ada pada anak didik yang akan dikembangkan. Psikologinya seperti yang berpengaruh di Amerika, yaitu pikologi dari aliran behaviorisme dan pragmatisme. Dari segi sosiologis, pendidik harus mengetahui ke mana tenaga-tenaga itu harus dibimbing. John Dewey mengatakan bahwa tenaga-tenaga pendidikan itu harus diabdikan pada kehidupan social, jadi mempunyai tujuan sosial. Maka pendidikan adalah proses sosial dan sekolah adalah suatu lembaga social.
            Selain Froebel dan Dewey, Montessori juga memiliki pemikiran yang banyak membawa pengaruh di seluruh dunia sampai saat ini. Sama seperti Froebel, Montessori memandang perkembangan anak usia dini sebagai suatu proses yang berkesinambungan. Hanya saja Montessori lebih memandang bahwa persepsi anak terhadap dunia sebagai dasar dari ilmu pengetahuan. Seluruh indra anak dilatih sehingga dapat menemukan hal-hal yang bersifat ilmu pengetahuan.
            Terdapat kritik terhadap Montessori. Karena Montessori kurang menekankan pada perkembangan bahasa dan social. Serta pada program Montessori yang tradisional, kurang menekankan pada perkembangan kreatifitas, musik dan seni.

Tujuan
1.      Untuk melihat kecenderungan minat anak pada beberapa pelajaran.
2.      Melihat keaktifan anak dalam kelas.
3.      Untuk melihat kesiapan anak pra-sekolah tersebut memasuki jenjang pendidikan formal.
4.      Melihat korelasi antara minat anak dengan suasana kelas.

Alat dan Bahan
1.      Alat tulis (kertas dan pulpen)
2.      Kamera digital
3.      Handphone
4.      Laptop
5.      Reward (pensil dan kue)

Subjek Observasi
11 orang murid Sakai Morrisons kelas KG B (8 orang hadir)
Analisis Data
Metode yang kami gunakan dalam menyelesaikan proyek pendidikan terhadap anak pra sekolah ini adalah sebagai berikut :
1.      Metode observasi
            Pada proyek ini kami mengobservasi (mengamati) anak pra sekolah didalam kelasnya secara langsung. Kami melihat bagaimana keaktifan, respon dan interaksi anak-anak tersebut dalam kelas. Observasi kami lakukan dengan merekam, mengambil gambar, serta mencatat pengamatan kami secara tertulis.
2.      Metode wawancara
            Metode wawancara kami lakukan dengan mengajukan  pertanyaan singkat kepada anak-anak pra sekolah secara langsung. Pertanyaannya adalah sebagai berikut :
Pelajaran apa yang paling diminati antara bahasa Inggris, Matematika dan Drama?
Kemudian anak-anak menjawab secara individual.

Kalkulasi Biaya
-          Reward (Pensil Angry Bird)    : Rp 30.000.00
-          Kue (Brownies Amanda)        : Rp 39.000.00
-          Transportasi                           : Rp 20.000.00
            Total                                       : Rp 89.000.00

Jadwal Perencanaan

Kegiatan
Maret
April
Mei
Juni
I
II
III
IV
I
II
III
IV
I
II
III
IV
I
Pemilihan Tema












Penentuan Judul












Diskusi Metode dan pelaksanaan












Pembuatan Pendahulan dan Landasan Teori












Pembelian Reward












Permohonan Surat Izin dari Fakultas












Konfirmasi Surat izin kepada kepala sekolah












Pelaksanaan Observasi












Diskusi untuk menganalisis data yang diperoleh












Diskusi untuk membuat kesimpulan akhir












Pembuatan Poster












Evaluasi












Posting Blog












Melaporkan hasil akhir kepada pihak Sakai Morrisons
















Jadwal Pelaksanaan

No.
Kegiatan
Tanggal
Waktu
Tempat
1.
Diskusi pemilihan topik dan penentuan judul
30 Maret 2012
11.00 WIB
Kantin Fak. Psikologi
2.
Diskusi perencanaan kegiatan dan penentuan metode yang digunakan
11 April 2012
11.30 WIB
Kantin Fak. Psikologi
3.
Diskusi pembuatan pendahuluan dan landasan teori
11 April 2012
10.30 WIB
Kantin Fak. Psikologi
4.
Permohonan surat izin dari fakultas
4 Mei 2012
12.00 WIB
Ruang Akademik
5.
Suvei lokasi serta pengajuan surat permohonan ke Sakai Morrisons
12 Mei 2012
12.00 WIB
Sakai Morrisons
6.
Pembelian reward
15 Mei 2012
16.00 WIB
Pajus
7.
Pelaksanaan observasi
23 Mei 2012
08.00 WIB
Sakai Morrisons
8.
Menyusun hasil akhir observasi
26 Mei 2012
11.00 WIB
Kos Jenet
9.
Pembuatan poster
28 Mei 2012
13.15 WIB
Kos jenet
10.
Evaluasi
29 Mei 2012
11.00 WIB
Kantin Fak. Kedokteran
11.
Posting blog
1 Juni 2012
13.00 WIB
Rumah masing-masing
12.
Melaporkan hasil akhir ke Sakai Morrisons
4 Juni 2012
09.00 WIB
Sakai Morrisons

Evaluasi Jadwal

No.
Kegiatan
Tanggal Rencana Awal
Tanggal Pelaksanaan
Tempat
1.
Diskusi pemilihan topik dan penentuan judul
30 Maret 2012
30 Maret 2012
Kantin Fak. Psikologi
2.
Diskusi perencanaan kegiatan dan penentuan metode yang digunakan
11 April 2012
11 April 2012
Kantin Fak. Psikologi
3.
Diskusi pembuatan pendahuluan dan landasan teori
11 April 2012
11 April 2012
Kantin Fak. Psikologi
4.
Permohonan surat izin dari fakultas
4 Mei 2012
4 Mei 2012
Ruang Akademik
5.
Suvei lokasi serta pengajuan surat permohona ke Sakai Morrisons
12 Mei 2012
12 Mei 2012
Sakai Morrisons
6.
Pembelian reward
15 Mei 2012
15 Mei 2012
Pajus
7.
Pelaksanaan observasi
23 Mei 2012
23 Mei 2012
Sakai Morrisons
8.
Menyusun hasil akhir observasi
26 Mei 2012
26 Mei 2012
Kos Jenet
9.
Pembuatan poster
28 Mei 2012
28 Mei 2012
Kos jenet
10.
Evaluasi
29 Mei 2012
29 Mei 2012
Kantin Fak. Kedokteran
11.
Posting blog
29 Mei 2012
29 Mei 2012
Rumah masing-masing
12.
Melaporkan hasil akhir ke Sakai Morrisons
4 Juni 2012
4 Juni 2012
Sakai Morrisons

Hasil Observasi

            Dalam observasi ini, memiliki sasaran awal 11 anak Sakai Morrisons. Namun hanya 8 anak yang hadir pada hari tersebut. 8 anak tersebut terdiri dari Danis, Dinesh, Noel, Tito, Tavleen, Syifa, Fatih dan Rizqie.
            Kami yang mana sebagai peneliti, tiba di lokasi tepat pukul 09.00 WIB. Observasi dimulai tepat ketika kami memasuki salah satu ruang kelas anak KG B. Kelas KG B adalah kelas untuk anak yang sudah siap memasuki jenjang pendidikan dasar.
            Sebelum anak-anak memulai kelas mata pelajaran pertama, anak-anak mengikuti sesi Introduce Time. Dalam sesi ini, anak-anak mengulang mata pelajaran yang dipelajari di hari sebelumnya. Dikarenakan pada hari tersebut kami datang untuk mengobservasi, anak-anak memperkenalkan dirinya. Ketika kami memasuki kelas, anak-anak terlihat malu-malu dan cukup berisik. Dapat di maklumi karena anak prasekolah yang akan memasuki jenjang pendidikan dasar, sudah mulai tertarik ketika melihat lawan jenisnya.
            Sekitar pukul 09.15, mata pelajaran dimulai. Satu mata pelajaran berdurasi 45 menit. Pelajaran pertama adalah English Language. Dalam mata pelajaran ini, anak terlihat sangat bersemangat. Mereka mengerti apa yang akan dan harus mereka lakukan. Anak-anak juga aktif menjawab pertanyaan yang di ajukan gurunya. Tidak hanya saat penjelasan dari guru saja, anak juga sangat bersemangat saat di berikan lembar kerja. Bukan hanya karena mereka mengerti dengan mata pelajarannya, tetapi juga memang tertarik dengan mata pelajarannya.
Dinamika kelas juga baik. Namun, ada beberapa anak yang kurang pay attention. Dari segi kemampuan, anak cukup baik dalam mengeja kata. Mereka cukup mengerti dengan apa yang guru katakan. Saat di berikan lembar kerja kedua, sebagian besar anak-anak protes namun tetap mengerjakannya dengan tekun.
            10 menit terakhir sebelum kelas bahasa Inggris usai, anak mulai tidak fokus. Dengan tegas, guru mengajarkan disiplin agar anak fokus kembali. Guru mengatakan, anak yang tidak disiplin adalah toddler. Anak langsung tertib kembali karena tidak terima jika disebut sebagai toddler. Setelah suasana kondusif kembali, guru mengajarkan cara membaca. Ada dua anak yang sedikit kesulitan saat membaca, tetapi di bantu dengan baik oleh gurunya.
            Sebagai catatan, ada seorang anak yang saat teman-temannya yang lain di berikan tugas bahasa Inggris, dia malah di berikan tugas matematika. Awalnya kami bingung. Ternyata anak tersebut tidak melewati tahap KG A dan toddler. Jadi ia tidak memiliki fondasi yang baik sebagaimana kemampuan yang seharusnya sudah dapat di miliki anak ketika akan memasuki jenjang pendidikan dasar.
            Kelas mata pelajaran pertama usai, di lanjutkan dengan snack time. Anak membawa bekal masing-masing dan terlihat saling makan dengan teratur dan santun. Anak tahu tata karma saat sedang makan. Anak juga menunjukkan rasa saling berbagi dengan temannya.
Setelah snack time, masuk ke sesi activity time. Activity time adalah sesi dimana anak me-refresh otak yang sebelumnya letih untuk belajar. Mereka melalui sesi ini dengan sangat bersemangat dan anak terlihat aktif. Disini anak di berikan puzzle, kertas gambar dan buku bacaan berbahasa Inggris. Cukup mengejutkan, ketika seorang anak ternyata dapat membaca buku cerita berbahasa Inggris. Namun ada seorang anak yang hanya mengumpulkan kartu yang mana ternyata mengakui bahwa ia belum dapat membaca.
            Memasuki kelas selanjutnya adalah kelas matematika. Kelas kali ini, anak terlihat tidak terlalu berkonsentrasi. Tidak seperti di kelas pertama. Sehingga butuh waktu yang lebhi lama untuk menarik perhatian mereka agar fokus pada mata pelajaran. Meskipun perhatian anak telah fokus, responsifitas anak tidak sebaik di kelas pertama. Suasana kelas lebih tenang, terlihat anak mulai bosan.
            Kali ini mereka mendapatkan pelajaran menghitu uang. Anak lebih banyak mengalami hambatan. Meskipun begitu, konsentrasi anak sangat terpusat ketika mengerjakan soal di papan tulisa dan lembar kerja.
            Lanjut kelas terakhir yaitu kelas drama. Semangat anak meningkat kembali. Mereka sangat bersemangat dan menikmati peran sebagai super hero yang mereka lakoni. Anak di latih untuk ekspresif sesuai alur cerita dan bereksperimen dengan perannya. Memori anak juga sangat berperan disini, ketika sejumlah naskah di berikan untuk di hafal.
            Tepat pukul 12.00 anak membereskan peralatannya kemudian berdoa bersama sebelum pulang. Setelah berdoa, kami menanyakan per individu kelas apa yang paling mereka suka. Sudah pasti anak lebih menyukai kelas drama yang mana lebih mengarah kepada hal yang bernuansa bermain di bandingkan mata pelajaran seperti bahasa Inggris dan matematika. Berkebalikan dari dugaan kami, ternyata anak lebih menyukai kelas matematika dibandingkan kelas bahasa. Padahal, anak terlihat lebih bersemangat di kelas bahasa. Dapat di simpulkan, anak merasa lebih tertantang dengan kelas matematika di banding kelas bahasa. Sebelum pulang, anak di berikan reward.

Kesimpulan

            Dari hasil – hasil observasi dan wawancara yang telah kami kumpulkan dari proyek ini, dapat disimpulkan beberapa hal. Bahwa dari hasil observasi dinamika kelas yang kami lihat, dapat disimpulkan bahwa anak – anak tersebut paling berminat pada kelas drama. Hal tersebut karena anak – anak itu terlihat paling bersemangat dan antusias pada kelas tersebut. Saat ditanyakan secara langsung pun, anak – anak tersebut dengan serentak berkata bahwa mereka menyukai kelas seni tersebut.
            Pada kelas Inggris anak – anak terlihat lebih antusias daripada kelas matematika. Awalnya kami menyimpulkan minat mereka lebih pada inggris . tetapi setelah kami lakukan wawancara langsung, ternyata mereka lebih banyak yang menggemari matematika. Jadi kami menyimpulkan, antusiasme di kelas inggris dikarenakan mereka masih segar karena kelas baru saja berlangsung, sedangkan pada kelas matematika mereka mulai lelah, dan cenderung lebih diam karena berkonsentrasi.
            Dan melihat keseluruhan dinamika kelas, kami menyimpulkan bahwa metode pengajaran yang dipakai pada Taman Kanak – kanak tersebut menggunakan teori yang dikeluarkan oleh John Dewey, yaitu Teori yang disebut sebagai “progressivism” yang lebih menekankan pada anak didik dan minat anak daripada mata pelajaran itu sendiri. Sehingga muncullah istilah “child-centered curriculum” dan “child-centered schools”.  Dapat dilihat dari hasil observasi , guru sebisa mungkin memberikan pelajaran yang berpusat pada anak didiknya. Pelajaran yang diberikan tidak hanya disampaikan, tetapi juga dipastikan bahwa setiap individu mengerti. Menurut John Dewey, sekolah adalah lembaga penyelenggara pendidikan yang mempunyai maksud dan tujuan untuk membangkitkan sikap hidup demokratis dan untuk dikembangkan. Hal ini harus dilakukan dengan berpangkal pada pengalaman –pengalaman anak. Hal tersebut terlihat pada dinamika kelas di TK sakai tersebut. Guru sebisa mungkin bertanya kepada setiap anak bagaimana pendapat mereka tentang pelajaran yang disampaikan, dan mendiskusikannya bersama, sehingga terbentuklah suasana yang demokratis.
            Pengaruh teori Friedrich Wilhelm Froebel (1782-1852) juga kami lihat dalam dinamika kelas TK tersebut. Dimana Friedrich merancang kurikulum yang meliputi pekerjaan atau kegiatan seni, keahlian dan pembangunan. Semua kegiatan yang dirancang dilakukan dalam bermain. Dia mengatakan bahwa pendidikan taman kanak-kanak perlu mengikuti sifat anak serta bermain merupakan suatu metode dari pendidikan dan cara dari anak untuk meniru kehidupan orang dewasa dengan wajar. Menurut Froebel, bermain merupakan proses dimana perkembangan kepribadian sedang terjadi. Pendapat Froebel ini terlihat pada dinamika kelas tersebut, dimana ada waktu – waktu tertentu anak diberikan waktu untuk belajar dan mengeksplorasi dunia mereka. Pada pelajaran kesenian pun, pada waktu itu drama, anak – anak dibiarkan mengeksplorasi peran mereka. Disitu anak – anak meniru bagaimana perilaku orang dewasa lewat bermain peran mereka.

Testimonial

Dina Maharani Trg.
            Ini merupakan pengalaman saya melakukan observasi secara langsung kepada anak TK. Merupakan pengalaman yang sangat mahal dan sangat berkesan. Dapat mengamati kegiatan anak secara langsung dan hal-hal alamiah yang biasa terjadi saat anak berusia akan memasuki jenjang pendidikan dasar. Ketika mengamati anak-anak tersebut, tidak dapat di pungkiri bahwa saya membandingkan dengan diri saya sendiri ketika berada di umur yang sama seperti mereka. Apa yang saya lakukan, apa yang tidak saya lakukan. Apa yang saya dapatkan, dan apa yang saya tidak dapatkan ketika duduk di bangku TK.
            Melihat tingkah anak yang apa adanya, menjadikan saya seperti terbawa suasana mengikuti alur pemikiran mereka yang polos dan tulus. Sungguh pengalaman yang sangat berharga J

Rossie Janette G. G
            Proyek ini merupakan pengalaman pertama bagi saya untuk terjun langsung ke lapangan dan melakukan observasi langsung kepada anak – anak TK. Pengalaman ini sangat berharga dan menjadi kenangan yang amat berkesan bagi saya. Anak – anak yang kami amati merupakan anak – anak yang aktif dan responsive, tetapi mereka sudah sangat teratur dan memiliki batasan yang disiplin. Sangat menarik melihat mereka belajar sambil bermain, dan mengamati tingkah mereka yang lucu. Semangat mereka untuk menerima pelajaran menyentuh hati saya, dan membuat saya mengintropeksi diri saya sendiri, bagaimana dengan semangat saya sendiri saat menerima pelajaran. Dan saya sangat setuju bila dikatakan, jenjang TK B ini merupakan jenjang persiapan seorang anak untuk masuk ke jenjang sekolah dasar. Karena saya  melihat pelajaran yang diberikan memang bertujuan untuk memberikan mereka bekal untuk masuk SD. Bukan saja bekal pengetahuan tetapi bekal psikologis dan cara – cara bersikap.

Dhara Puspita Hrp.
            Melakukan tugas proyek mini merupakan pengalaman paling menyenangkan dan sangat berharga, terutama ketika dapat melakukan observasi secara langsung dengan anak – anak TK. Dengan adanya proyek mini ini juga, saya dapat secara langsung melihat cara belajar anak dan ketika anak mulai bosan dengan pelajaran yang diajarkan oleh guru, guru berusaha untuk menjadikan anak – anak tersebut kembali bersemangat dalam mengikuti pelajaran berikutnya.
POSTER

Senin, 28 Mei 2012

SURVEY : "Blended Learning"

Sehubungan dengan tugas Psikologi Pendidikan yang mewajibkan setiap peserta kelas untuk melakukan survey dengan menggunakan kuesioner online, dengan tujuan untuk dapat melihat respon mahasiswa/i Fakultas Psikologi USU yang mengikuti kelas pendidikan 2011/2012 tersebut terhadap sistem "Blended Learning" yang sudah berlangsung beberapa minggu sebelumnya.

Kuesioner ini terdiri dari 6 poin pernyataan yang berkaitan dengan sistem "Blended Learning". Berikut adalah respon yang diperoleh dari 64 orang responden yang bersedia berpartisipasi :



Metode pembelajaran blended learning sangat menyusahkan


Sangat Setuju
1
1.54 %
Setuju
11
16.92 %
Netral
26
40 %
Tidak Setuju
24
36.92 %
Sangat Tidak Setuju
3
4.62 %


Metode pembelajaran blended learning mengembangkan cara belajar yang mandiri


Sangat Setuju
5
7.81 %
Setuju
47
73.44 %
Netral
11
17.19 %
Tidak Setuju
1
1.56 %
Sangat Tidak Setuju
0
0.00 %


Metode pembelajaran blended learning tidak dapat diterapkan dengan baik


Sangat Setuju
1
1.59 %
Setuju
19
30.16 %
Netral
26
41.27 %
Tidak Setuju
15
23.81 %
Sangat Tidak Setuju
2
3.17 %


Metode pembelajaran blended learning sudah berkembang dengan baik di Fakultas Psikologi


Sangat Setuju
0
0.00 %
Setuju
12
18.75 %
Netral
35
54.69 %
Tidak Setuju
15
23.44 %
Sangat Tidak Setuju
2
3.13 %


Tidak ada kesulitan dalam pelaksanaan pembelajaran blended learning


Sangat Setuju
0
0.00 %
Setuju
12
18.75 %
Netral
20
31.25 %
Tidak Setuju
29
45.31 %
Sangat Tidak Setuju
3
4.69 %


Dengan pembelajaran blended learning, saya dapat memperoleh informasi dengan cepat


Sangat Setuju
5
7.69 %
Setuju
45
69.23 %
Netral
13
20.00 %
Tidak Setuju
2
3.08 %
Sangat Tidak Setuju
0
0.00 %



Hasil :
- Berdasarkan tabel 1 dan 2
  Dapat dilihat bahwa mahasiswa/i memiliki rasa ketertarikan yang tinggi terhadap sistem pembelajaran blended learning tersebut.
- Berdasarkan tabel 3,4, dan 5
  Hasil survey menunjukkan bahwa, meski mahasiswa/i memiliki ketertarikan yang tinggi terhadap sistem blended learning, tetap ada kendala yang diperoleh oleh sebagian besar peserta. Hal ini dapat disebabkan karena fasilitas yang kurang atau bahkan belum memadai (seperti komputer, laptop, modem, dan wifi) sehingga sistem blended learning ini belum dapat diterapkan dengan baik di Fakultas Psikologi.
- Berdasarkan tabel 6
  Hasil survey 69.23 %, menunjukkan bahwa responden mendapatkaan manfaat yang sangat besar terhadap sistem blended learning (seperti mendapatkan informasi dengan lebih cepat, lebih banyak, dan menghemat biaya serta waktu.

Testimonial :
Survey ini sangat membantu dalam mengumpulkan hasil yang akurat dalam mengumpulkan respon mahasiswa/i terhadap sistem blended learning. Dengan hasil yang diperoleh dapat disimpulakan bahwa hampir sebagian besar mahasiswa/i memberikan respon positif terhadap sistem ini. Hanya saja, selalu ada hal – hal yang belum bisa dipenuhi secara keseluruhan seperti fasilitas yang memang pada dasarnya sangat penting. Sehingga, hal tersebutlah yang dapat menghambat berkembangnya sistem blended learning ini.

Sabtu, 12 Mei 2012

Blended Learning 2


Selamat malam para calon – calon psikolog \(^.^)/

Postingan saya malam ini akan membahas tentang “Blended Learning” yang telah dilakukan dikelas pendidikan pagi tadi.

Testimonial :
Proses pembelajaran blended learning ini baru yang kali pertama saya lakukan, dan cukup menyenangkan. Sistem ini dilakukan dengan cara berkomunikasi dengan anggota setiap kelok yang harus melalui Gtalk. Kemudian setiap anggota melakukan diskusi dan masing – masing anggota dapat memperoleh informasi lebih dari internet. Walaupun pada akhirnya semua berjalan lancar, tetapi tetap  ada kendala seperti sinyal wifi yang sulit untuk dihubungkan dengan laptop dan kemudian pada saat baterai laptop sudah mulai low dan kebetulan juga mati lampu maka proses belajar sangat tidak efektif. Dan yang sangat disayangkan, para peserta didik tidak semua memiliki fasilitas yang memadai untuk mengikuti sistem perkuliahan yang seperti ini (misalnya laptop dan modem). Tetapi ada sisi positif juga yaitu memudahkan dalam pencarian informasi melalui internet sehingga referensi yang didapatkan juga lebih luas dan tidak terbatas, ruang kelas menjadi lebih aman dan tenang, dan setiap anggota kelompok dapat menyampaikan tanggapannya masing – masing.

Resume :
Blended Learning merupakan sistem pembelajaran yang menggabungkan cara pembelajaran tatap muka (face to face) dan pembelajaran berbasis teknologi seperti penggunaan komputer/laptop dan fasilitas internet yang dilakukan secara online dan offline.

Seperti yang telah saya posting sebelumnya, ada beberapa pengertian blended learning menurut tokoh seperti :

Menurut Thorne (2003), Blended learning adalah perpaduan dari teknologi multimedia, CD ROM video streaming, kelas virtual, voicemail, email dan telefon conference, animasi teks online  dan video-streaming. Semua ini dikombinasi dengan bentuk tradisional pelatihan di kelas dan pelatihan satu-satu. Blended learning menjadi solusi yang paling tepat untuk proses pembelajaran yang sesuai tidak hanya dengan kebutuhan pembelajaran akan tetapi juga gaya si pembelajar.

Pembelajaran berbasis Blended learning berkembang sekitar tahun 2000 dan pada saat ini banyak digunakan di Amerika Utara, Inggris, Australia, perguruan tinggi dan dunia pelatihan. Melalui blended learning semua sumber belajar yang dapat memfasilitasi terjadinya belajar bagi orang yang belajar dikembangkan. Pembelajaran blended dapat menggabungkan pembelajaran tatap muka (face-to-face) dengan pembelajaran berbasis komputer. Artinya, pembelajaran dengan pendekatan teknologi pembelajaran dengan kombinasi sumber-sumber belajar tatap muka dengan pengajar maupun yang dimuat dalam media komputer, telpon seluler, saluran televisi satelit, konferensi video, dan media elektronik lainnya. Peserta didik dan fasilitator bekerja sama untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. 

Tujuan utama pembelajaran blended adalah memberikan kesempatan bagi berbagai karakteristik pebelajar agar terjadi belajar mandiri, berkelanjutan, dan berkembang sepanjang hayat, sehingga belajar akan menjadi lebih efektif, lebih efisien, dan lebih menarik.

Kelebihan sistem pembelajaran blended learning :
- Pembelajaran terjadi secara mandiri dan konvensional, yang keduanya memiliki kelebihan yang dapat saling melengkapi
- Pembelajaran lebih efektif dan efisien, dan juga dapat meningkatkan aksesbiltas. Sehingga dengan adanya blended learning maka peserta belajar semakin mudah dalam mengakses materi pembelajarannya

Kekurangan sistem pembelajaran blended learning :
- Media yang dibutuhkan sangat beragam, sehingga sulit diterapkan apabila sarana dan prasarana tidak mendukung
- Tidak meratanya fasilitas yang dimiliki pelajar, seperti komputer dan akses internet. Karena seharusnya dalam blended learning diperlukan akses internet yang memadai, apabila jaringan kurang memadai akan menyulitkan peserta dalam mengikuti pembelajaran mandiri via online
- Kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap penggunaan teknologi
- Tidak meratanya fasilitas yang dimiliki peserta didik

Sumber :
http://rizcafitria.wordpress.com/2011/04/30/blended-learning/
http://en.wikipedia.org/wiki/Blended_learning

Jumat, 11 Mei 2012

Blended Learning

Menurut Thorne (2003), Blended learning adalah perpaduan dari: teknologi multimedia, CD ROM video streaming, kelas virtual, voicemail, email dan telefon conference, animasi teks online  dan video-streaming. Semua ini dikombinasi dengan bentuk tradisional pelatihan di kelas dan pelatihan satu-satu. Blended learning menjadi solusi yang paling tepat untuk proses pembelajaran yang sesuai tidak hanya dengan kebutuhan pembelajaran akan tetapi juga gaya si pembelajar.

Perlunya dan signifikansi blended leaning terletak pada potensialnya. Blended learning merepresentasikan keuntungan yang jelas untuk menciptakan pengalaman belajar yang memberikan pembelajran yang tepat pada saat yang tepat dan waktu yang tepat pada setiap individu. Blended learning menjadi batasan yang benar-benar universal dan global dan membawa kelompok pembelajar bersama-sama melintas budaya dan zona waktu yang berbeda. Pada konteks ini blended learning dapat menjadi salah satu pengembangan paling signifikan pada abad 21.

Menurut MacDonald (2008), istilah blended learning biasanya berasosiasi dengan memasukkan media online pada program pembelajaran, sementara pada saat yang sama tetap memperhatikan perlunya mempertahankan kontak tatap muka dan pendekatan tradisional yang lain untuk mendukung siswa. Istilah ini juga digunakan saat media asynchronous seperti email, forums, blogs atau wikis digabungkan dengan teknologi, teks atau audio sinkronus.

Bersin (2004) menjelaskan bahwa blended learning adalah kombinasi berbagai media pembelajaran yang berbeda (teknologi, aktivitas, dan berbagai jenis peristiwa) untuk menciptakan program pembelajaran yang optimum untuk audiens (siswa) yang spesifik. Istilah blended sendiri berarti bahwa pembelajaran tradisional di dukung dengan format elektronik  yang lain. Program blended learning menggunakan berbagai bentuk e-learning, mungkin digabungkan dengan pelatihan yang terpusat pada instruktur dan format langsung lainnya.

Wilson & Smilanich (2005) menyimpulkan bahwa Blended learning adalah penggunaan solusi pelatihan yang paling efektif, diterapkan dalam cara yang terkoordinasi untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.

Model blended learning tidak hanya mengimplementasikan materi ajar pada web, tetapi juga menciptakan skenario pembelajaran dengan matang untuk mengundang keterlibatan peserta didik secara aktif dan konstruktif dalam proses belajar mereka.

Kenapa Blended Learning ?
Graham (2000), pembelajaran yang menggabungkan dua sistem :
Sistem tatap muka yang bersifat klasikal (traditional learning) dan sistem pembelajaran jarak jauh menggunakan teknologi informasi dan komunikasi yang sifatnya terdistribusi (e-learning).

1. Sistem tatap muka yang bersifat klasikal berarti proses interaksi dalam pembelajaran berlangsung pada waktu dan tempat yang sama. Pembelajaran dapat dilakukan dengan berbagai model, strategi dan metode.

2. Sistem e-learning dapat berlangsung secara online melalui internet dan intranet atau pun off-line. Proses interaksi pembelajaran dapat belangsung pada waktu yang sama - tempat berbeda (synchronous), waktu berbeda - tempat berbeda (asynchronous). Proses belajar menjadi lebih fleksibel, tidak terikat oleh jadwal waktu dan tempat, namun dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja. Bahkan aktivitas belajar dapat dilakukan sambil bekerja.


Sumber :