Selasa, 19 Juni 2012

Simulasi Paedagogi dan Andragogi

Sabtu, 16 Juni 2012

Peserta kelas ganjil mendapatkan tugas untuk membuat sebuah simulasi mengenai paedagogi dan andragogi sehingga kedua sistem itu dapat dibedakan. Setiap kelompok terdiri dari tiga orang yang dipilih secara random.

Kelompok saya terdiri dari :

Simulasi pertama, kami mempraktekkan "Andragogi" yang diperankan oleh Dhara (sebagai instruktur memasak) dan Kristin (sebagai ibu yang akan belajar memasak). Pada saat itu, sang ibu lebih aktif untuk bertanya dan mengerjakan tahapan memasak tersebut, sedangkan sang instruktur hanya sebagai pemandu atau fasilitator yang mengarahkan sang ibu tersebut.

Simulasi kedua, kami mempraktekkan "Paedagogi" yang diperankan oleh Kristin (sebagai seorang ibu rumah tangga) dan Rajief (sebagai seorang anak berusia 5tahun). Pada saat itu,sang ibu mengajarkan anaknya untuk membaca dengan memberikan sebuah motivasi apabila sang anak mau untuk belajar membaca maka sang anak akan diajak untuk jalan - jalan dengan sang ibu. Sehingga, sang anak memiliki keinginan untuk belajar membaca.

Dengan dilakukannya simulasi tersebut akan lebih memudahkan mahasiswa/i untuk memahami perbedaan antara paedagogi dan andragogi. Paedagogi adalah seni atau pengetahuan membimbing, memimpin atau mengajar anak. Sedangkan, andragogi adalah proses untuk melibatkan peserta didik dewasa kedalam suatu struktur pengalaman belajar.

Dimana, paedagogi lebih fokus pada motivasi ekstrinsik peserta didik dalam melakukan sesuatu, sedangkan andragogi lebih kepada motivasi instrinsik yang dimiliki oleh peserta didiknya.

Dalam sistem penyampaian materi pun terlihat berbeda, pada paedagogi lebih melakukan pendekatan kepada sang peserta didiknya, sedangkan pada andragogi sang pengajar lebih bersifat sebagai fasilitator. 

Pada paedagogi sang pengajar lebih aktif dalam melakukan penjelasan agar peserta didik lebih mudah untuk mengerti, sedangkan pada andragogi peserta didiklah yang lebih aktif didalam proses pembelajaran.

Pada paedagogi juga sistem pembelajarannya adalah dalam memecahkan masalah untuk masa depan, sedangkan andragogi itu sendiri untuk memecahkan masalah saat ini dan harus langsung dapat diaplikasikan kedalam kehidupan sehari - hari.


Keterangan :
Gambar diatas menjelaskan alur sistem pengajaran, dimana :
 - Paedagogi : Pengajar lebih aktif dalam memberikan ilmu dan pengarahan kepada peserta (anak-anak)
 - Andragogi : Pengajar hanya sebagai fasilitator dan masing - masing peserta memiliki pengalaman belajar yang berbeda

Sabtu, 02 Juni 2012

Pareidolia

Selamat malam \(^.^)/

Saya hanya ingin membagi sedikit informasi yang baru saya dapatkan.
Sore tadi saya baru selesai membaca sebuah novel ringan, judulnya "hujan punya cerita tentang kita".
yaa.. namanya novel remaja isinya biasa sih cinta - cintaan gitu, tapi yang mau saya ceritain bukan itu (hahaha). Didalam novel itu, ada satu tokoh namanya Rangga, dan dia sangat menyukai hujan dan photography. Pada salah bab dia berhasil mengabadikan foto yang merupakan gambar awan, dan awan itu berbentuk menyerupai bentuk hati. kemudian dia mengatakan bahwa itu "pareidolia".

Untuk saya sendiri, kata itu sangat asing. maka setelah sata selesai membacanya saya mencoba untuk browsing. dan saya mendapatkan banyak informasi.

Menurut beberapa media, Pareidolia itu adalah fenomena psikologis yang membuat kita seolah melihat bentuk - bentuk yang dianggap penting pada sesuatu. misalnya itu gini, pas kita lagi duduk di teras rumah, atau selama perjalanan jauh, biasanyakan didalan kendaraan kita sering melihat ke langit, terus ada banyak gumpalan awan. gumpalan awan itu kan terkadang membentuk sesuatu, kemudian kita menganggap awan tersebut membentuk binatang, benda, atau wajah. Fenomena itulah yang ternyata disebut pareidolia.

Ini gambar yang berhasil dicari digoogle :

kayak gini ni, biasanya berbentuk kepala anjing
Kayaknya hal ini wajar aja, tapi ingat gak sekitar 2 atau 3tahun yang lalu, ada sempat melihat awan dengan bentuk tulisan arab Allah ? kalo itu sih bingung juga, itu memang fenomena alam atau fenomena psikologis. Hal ini pun sebenarnya menarik, hanya saja kemajuan tekhnologi juga malah seperti ingin campur tangan, dengan membuat sesuatu yang seperti ini, contohnya uvo, hantu, atau bahkan sinar terang yang beberapa orang justru menganggap itu adalah malaikat -_-
Tapi apapun itu, semoga semua orang dapat bijak menyikapi hal - hal seperi ini.

Semoga bermanfaat teman - teman :)




Andragogi


Andragogi adalah proses untuk melibatkan peserta didik dewasa ke dalam suatu struktur pengalaman belajar. Istilah ini awalnya digunakan oleh Alexander Kapp, seorang pendidik dari Jerman, pada tahun 1833, dan kemudian dikembangkan menjadi teori pendidikan orang dewasa oleh pendidik Amerika Serikat, Malcolm Knowles (24 April 1913 - 27 November 1997).

Andragogi berasal dari bahasa Yunani yaitu "aner", dengan akar kata andr, yang berarti orang dewasa yang berarti mengarahkan orang dewasa dan berbeda dengan istilah yang lebih umum digunakan, yaitu pedagogi yang asal katanya berarti mengarahkan anak-anak.

Dengan demikian maka kalau ditarik pengertiannya sejalan dengan pedagogi, maka andragogi secara harfiah dapat diartikan sebagai ilmu dan seni mengajar orang dewasa. Namun karena orang dewasa sebagai individu yang sudah mandiri dan mampu mengarahkan dirinya sendiri, maka dalam andragogi yang terpenting dalam proses interaksi belajar adalah kegiatan belajar mandiri yang bertumpu kepada warga belajar itu sendiri dan bukan merupakan kegiatan seorang guru mengajarkan sesuatu (Learner Centered Training/Teaching).

Awalnya digunakan oleh Alexander Kapp (pendidik Jerman) pada tahun 1833, Andragogi dikembangkan menjadi sebuah teori pendidikan orang dewasa oleh pendidik Amerika Malcolm Knowles.

Asumsi-Asumsi Pokok Teori Belajar Andragogi
            Malcolm Knowles (1970) dalam mengembangkan konsep andragogi, mengembangkan empat pokok asumsi sebagai berikut:
a.      Konsep Diri
            Asumsinya bahwa kesungguhan dan kematangan diri seseorang bergerak dari ketergantungan total (realita pada bayi) menuju ke arah pengembangan diri sehingga mampu untuk mengarahkan dirinya sendiri dan mandiri. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa secara umum konsep diri anak-anak masih tergantung sedangkan pada orang dewasa konsep dirinya sudah mandiri. Karena kemandirian inilah orang dewasa membutuhkan memperoleh penghargaan orang lain sebagai manusia yang mampu menentukan dirinya sendiri (Self Determination), mampu mengarahkan dirinya sendiri (Self Direction). Apabila orang dewasa tidak menemukan dan menghadapi situasi dan kondisi yang memungkinkan timbulnya penentuan diri sendiri dalam suatu pelatihan, maka akan menimbulkan penolakan atau reaksi yang kurang menyenangkan. Orang dewasa juga mempunyai kebutuhan psikologis yang dalam agar secara umum menjadi mandiri, meskipun dalam situasi tertentu boleh jadi ada ketergantungan yang sementara. Hal ini menimbulkan implikasi dalam pelaksanaan praktek pelatihan, khususnya yang berkaitan dengan iklim dan suasana pembelajaran dan diagnosa kebutuhan serta proses perencanaan pelatihan.
b.       Peranan Pengalaman
            Asumsinya adalah bahwa sesuai dengan perjalanan waktu seorang individu tumbuh dan berkembang menuju ke arah kematangan. Dalam perjalanannya, seorang individu mengalami dan mengumpulkan berbagai pengalaman pahit-getirnya kehidupan, dimana hal ini menjadikan seorang individu sebagai sumber belajar yang demikian kaya, dan pada saat yang bersamaan individu tersebut memberikan dasar yang luas untuk belajar dan memperoleh pengalaman baru. Oleh sebab itu, dalam teknologi pelatihan atau pembelajaran orang dewasa, terjadi penurunan penggunaan teknik transmittal seperti yang dipergunakan dalam pelatihan konvensional dan menjadi lebih mengembangkan teknik yang bertumpu pada pengalaman. Dalam hal ini dikenal dengan "Experiential Learning Cycle" (Proses Belajar Berdasarkan Pengalaman). Hal in menimbulkan implikasi terhadap pemilihan dan penggunaan metoda dan teknik kepelatihan. Maka, dalam praktek pelatihan lebih banyak menggunakan diskusi kelompok, curah pendapat, kerja laboratori, sekolah lapang, melakukan praktek dan lain sebagainya, yang pada dasarnya berupaya untuk melibatkan peranserta atau partisipasi peserta pelatihan.
c.       Kesiapan Belajar
            Asumsinya bahwa setiap individu semakin menjadi matang sesuai dengan perjalanan waktu, maka kesiapan belajar bukan ditentukan oleh kebutuhan atau paksaan akademik ataupun biologisnya, tetapi lebih banyak ditentukan oleh tuntutan perkembangan dan perubahan tugas dan peranan sosialnya. Pada seorang anak belajar karena adanya tuntutan akademik atau biologiknya. Tetapi pada orang dewasa siap belajar sesuatu karena tingkatan perkembangan mereka yang harus menghadapi dalam peranannya sebagai pekerja, orang tua atau pemimpin organisasi. Hal ini membawa implikasi terhadap materi pembelajaran dalam suatu pelatihan tertentu. Dalam hal ini tentunya materi pembelajaran perlu disesuaikan dengan kebutuhan yang sesuai dengan peranan sosialnya.
d.      Orientasi Belajar
            Asumsinya yaitu bahwa pada anak orientasi belajarnya seolah-olah sudah ditentukan dan dikondisikan untuk memiliki orientasi yang berpusat pada materi pembelajaran (Subject Matter Centered Orientation). Sedangkan pada orang dewasa mempunyai kecenderungan memiliki orientasi belajar yang berpusat pada pemecahan permasalahan yang dihadapi (Problem Centered Orientation). Hal ini dikarenakan belajar bagi orang dewasa seolah-olah merupakan kebutuhan untuk menghadapi permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan keseharian, terutama dalam kaitannya dengan fungsi dan peranan sosial orang dewasa. Selain itu, perbedaan asumsi ini disebabkan juga karena adanya perbedaan perspektif waktu. Bagi orang dewasa, belajar lebih bersifat untuk dapat dipergunakan atau dimanfaatkan dalam waktu segera. Sedangkan anak, penerapan apa yang dipelajari masih menunggu waktu hingga dia lulus dan sebagainya. Sehingga ada kecenderungan pada anak, bahwa belajar hanya sekedar untuk dapat lulus ujian dan memperoleh sekolah yang lebih tinggi. Hal ini menimbulkan implikasi terhadap sifat materi pembelajaran atau pelatihan bagi orang dewasa, yaitu bahwa materi tersebut hendaknya bersifat praktis dan dapat segera diterapkan di dalam kenyataan sehari-hari.

Sumber :

Jumat, 01 Juni 2012

Pedagogi

Pedagogi yang ditarik dari kata "paid" artinya anak dan "agogos" artinya membimbing atau memimpin. Maka dengan demikian secara harafiah "pedagogi" berarti seni atau pengetahuan membimbing atau memimpin atau mengajar anak. Pedagogi berasal dari kata Yunani "dibayar," yang berarti anak plus "agogos," yang berarti memimpin. Oleh karena itu, pedagogi telah didefinisikan sebagai seni ataupengetahuan membimbing,memimpin atau mengajar anak.  
Karena pengertian pedagogi adalah seni atau pengetahuan membimbing atau mengajar anak maka apabila menggunakan istilah pedagogi untuk kegiatan pelatihan bagi orang dewasa jelas tidak tepat, karena mengandung makna yang bertentangan. Pada awalnya, bahkan hingga sekarang, banyak praktek proses belajar dalam suatu pendidikan yang ditujukan kepada orang dewasa, yang seharusnya bersifat andragogis, dilakukan dengan cara-cara yang pedagogis. Dalam hal ini prinsip-prinsip dan asumsi yang berlaku bagi pendidikan anak dianggap dapat diberlakukan bagi kegiatan pendidikan bagi orang dewasa.  

Namun karena orang dewasa sebagai individu yang sudah mandiri dan mampu mengarahkan dirinya sendiri, maka dalam andragogi yang terpenting dalam proses interaksi belajar adalah kegiatan belajar mandiri yang bertumpu kepada warga belajar itu sendiri dan bukan merupakan kegiatan seorang guru mengajarkan sesuatu (Learner Centered Training / Teaching)  

Menurut Hewett LL.D, bahwa pedagogi lebih dari sekedar ilmu dan seni mengajar. Pedagogi berkenaan dengan upaya membawa anak-anak dan memimpin mereka untuk mencapai suatu tujuan yang ideal, di sini tujuan idealnya adalah kelaki-lakian dan keperempuanan yang bermartabat. Tujuan pendidikannya idealistik. Realitas pendidikan, situasi pendidikan, selalu berhubungan dengan tujuan-tujuan idealistik, baik yang individual ataupun masyarakat/bangsa. 
Pedagogi bertujuan agar anak di kemudian hari mampu memahami dan menjalani kehidupan dan kelak dapat menghidupi diri mereka sendiri, dapat hidup secara bermakna, dan dapat turut memuliakan kehidupan.
Dalam model pedagogi, guru memiliki tanggung jawab penuh untuk membuat keputusan tentang apa yang akan dipelajari, bagaimana akan dipelajari, ketika akan dipelajari, dan jika materi telah dipelajari. Pedagogi, atau instruksi guru-diarahkan seperti yang umumnya dikenal, tempat siswa dalam peran tunduk membutuhkan ketaatan dengan instruksi guru. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa peserta didik hanya perlu mengetahui apa guru mengajarkan mereka. Hasilnya adalah situasi pengajaran dan pembelajaran yang aktif mempromosikan ketergantungan pada instruktur (Knowles, 1984).
 

Pedagogi memiliki arti 3 hal sebagai berikut :
1. INSTRUKSI
2. PENDIDIKAN: seni, ilmu pengetahuan, atau profesi mengajar
3. SEKOLAH: tempat instruksi

Sumber :
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEDAGOGIK/195509271985031-DHARMA_KESUMA/Pedagogi-pedagogik_01.pdf
http://www-distance.syr.edu/andraggy.html