Jumat, 16 Maret 2012

Inteligensi~



Individu menjalani hidupnya dengan cara yang berbeda- bedaThomas Huxley

Halooo \(^o^)/ dipostingan kali ini, saya akan membahas sedikit tentang Intelingensi.

Novelis inggris abad ke-20 Aldous Huxley mengatakan bahwa anak – anak hebat dalam hal rasa ingin tahu dan inteligensinya. Beberapa pakar mendeskripsikan inteligensi sebagai keahlian untuk memecahkan masalah (problem-solving). Sedangkan yang lainnya mendeskripsikan sebagai kemampuan untuk beradaptasi dan belajar dari pengalaman hidup sehari- hari.

Minat terhadap inteligensi sering difokuskan kepada perbedaan dan  penilaian secara individual (Kaufman & Lictenberger, 2002; Lubinski, 2000; Molfse & Martin, 2001). Perbedaan individual adalah cara dimana seseorang berbeda satu sama lain secara konsisten dan tetap.

Binet dan Simon menyusun tes inteligensi pertama. Binet mengembangkan konsep usia mental, dan Stern membuat konsep IQ sebagai MA/CA x 100. Distribusi skor Stanford-Binet mendekati kurva normal. Sedangkan skala Weschler banyak digunakan untuk menilai inteligensi. Dan semuanya menghasilkan IQ keseluruhan, dan IQ verbal dan kinerja.

Tes kelompok dirasa menjadi cukup nyaman dan ekonomis, tetapi memiliki sejumlah kekurangan  seperti kurangnya kesempatan untuk menyusun laporan dan gangguan dari murid lainnya yang tidak bisa dipastikan. Tes inteligensi kelompok harus selalu dilengkapi dengan informasi relevan lainnya pada saat akan membuat keputusan untuk murid tersebut. Dan hal ini juga berlaku untuk tes inteligensi individual.

Empat kontroversi dan isu yang berkaitan dengan inteligesi, adalah :
1. Persoalan sifat asuhan, bagaimana warisan dan lingkungan berinteraksi untuk menghasilkan inteligensi
2. Apakah seseorang memiliki inteligensi umum atau tidak
3. Seberapa adilkah tes inteligensi berlaku untuk lintas kelompok etinis dan kultural
4. Apakah murid harus dikelompokkan bedasarkan kemampuannya (tracking)

Dan penting untuk menyadari bahwa tes inteligensi adalah indikator kinerja sekarang, bukan potensi tetap yang dimiliki seseorang. Tes IQ tidak untuk digunakan sebagai ukuran utama pada kompetensi. IQ tertinggi bukan puncak dari nilai kemanusiaan. Sebaiknya jauhi pandangan stereotip dan perkiraan negatif tentang murid berdasarkan skor IQ yang dimilikinya. Ingat bahwa psikolog pendidikan percaya bahwa untuk mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan murid di beragam area inteligensi yang berbeda.


Sumber : Santrock, J.W. (2008). Psikologi Pendidikan (edisi kedua). Jakarta: Kencana 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar